banner 728x250
IKlan

“Mayor Jenderal Kehormatan (TNI-AD) Tgk. Amir Husin Al-Mujahid Usir Tentara NICA,” Amir Hasan Nazri Al-Mujahid, SH: Kembalikan Teritorial Pemerintahan Propinsi Aceh Langkat dan Tanah Karo BAGIAN KE-EMPAT

banner 120x600
banner 468x60

SUARA GARDA | ACEH TAMIANG
Tgk. Amir Husin Al-Mujahid adalah tokoh revolusioner dalam sejarah kemerdekaan RI di Aceh, Beliau
membentuk dan memimpin Tentara Perjuangan Rakyat (TPR) sebagai Panglima Divisi Tgk Chik di Paya Bakong untuk memperbaiki Pemerintahan Daerah Aceh yang masih labil dengan Markas Divisi, di Idi Rayeuk, Aceh Timur.

“Dalam setiap kesempatan, Tgk, Amir Husin Al-Mujahid mengajarkan pendidikan politik kesadaran kebangsaan kepada para laskar rakyat dan masyarakat Aceh lainnya, tentang pentingnya kemerdekaan dan persatuan,” ulas Ayah Cang, pada Minggu (10/08/25) sembari menyeruput kopi phet kafe (kpk), di Karang Baru.

banner 325x300

Ayah Cang menjelaskan, berdasarkan informasi yang diperoleh dari bagian intelijen Divisi Tengku Chik di Paya Bakong, bahwa NICA yang membonceng Sekutu telah mendarat di Sabang, dan akan masuk ke Kuta Raja (Banda Aceh), dengan maksud untuk menduduki kembali Daerah Aceh.

“Maka, Tgk. Amir Husin Al-Mujahid bersama ribu-an anggota TPR-Divisi Tengku Chik di Paya Bakong, melakukan Long March menuju Kuta Raja (saat ini Banda Aceh), untuk mempertahankan kedaulatan wilayah Aceh dan mengusir Tentara NICA, dengan melakukan tindakan Koreksi Kepemimpinan baik Sipil maupun Militer, yaitu dengan menggantikan posisi Residen Aceh, dari T. Nyak Arief kepada T. Daudsyah, dan pimpinan Militer dari Syamaun Gaharu kepada Husin Yusuf”, ungkap Ayah Cang.

“Selain itu, Residen Aceh dan Pimpinan Militer dimasa itu tidak tegas terhadap peristiwa Sigli dan Cumbok”, tambah Ayah Cang lagi.

Perlu diketahui, NICA, atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda (Nederlandsch Indische Civiele Administratie), adalah organisasi semi-militer bentukan Belanda yang bertujuan untuk memulihkan pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia setelah Jepang menyerah pada akhir Perang Dunia II.

NICA dibentuk pada tahun 1944 dan tiba di Indonesia bersama pasukan Sekutu, yang bertujuan untuk menerima penyerahan Jepang dan membebaskan tawanan perang. Namun, kedatangan mereka diboncengi keinginan Belanda dalam rangka mengembalikan pemerintahan sipil dan hukum kolonial Belanda di Hindia Belanda untuk kembali menguasai Indonesia, yang memicu perlawanan dari rakyat dan para pejuang kemerdekaan, di Aceh.

Setelah melakukan Long March dan tindakan koreksi terhadap Pemerintahan Keresidenan Aceh, baik sipil maupun militer, Tgk. Amir Husin Al-Mujahid beserta seluruh Laskarnya kembali ke markas yang berpusat, di Idi, kecuali para Staf nya, seperti, Nurdin Sufi, menjabat sebagai Wakil Panglima Divisi V.

“Selanjutnya, Tgk. Amir Husin Al-Mujahid di tarik sebagai Staf Umum ke Komandemen Sumatera Teritorium X, yang bermarkas di Medan”, tutup Ayah Cang. (m.rotuah)

Lanjut: BAGIAN KE-LIMA

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *