SUARA GARDA | ACEH TAMIANG Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, SE.I menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya atas kolaborasi kemanusiaan yang diinisiasi oleh Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) yang telah membantu pemulihan masyarakat pascabencana hidrometeorologi di Kabupaten Aceh Tamiang.
Apresiasi tersebut disampaikan pada kegiatan Penutupan Program Tanggap Darurat Plan Indonesia Periode Januari – September 2026, yang berlangsung di ruang kerja Wakil Bupati, Senin (21/09/26).
Dalam sambutannya, Wabup Ismail menyampaikan bahwa apa yang dilakukan oleh Plan Indonesia sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan perempuan. Program ini dinilai berhasil dan mampu mempercepat pemulihan fisik maupun psikologis warga terdampak bencana banjir di wilayah Bumi Muda Sedia.
“Pemerintah Daerah tidak dapat berjalan sendiri dalam penanggulangan bencana. Kehadiran Plan Indonesia menjadi mitra strategis yang luar biasa, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar, penyediaan air bersih dan sanitasi, hingga perlindungan anak di situasi darurat. Kami mengucapkan terima kasih atas dedikasi seluruh tim di lapangan,” ujar Wabup Ismail.
Program tanggap darurat yang berjalan sejak pascabanjir awal tahun hingga saat ini telah memberikan dukungan nyata kepada masyarakat.
Dalam laporannya, Direktur Program Plan Indonesia, Ida Ngurah menjelaskan intervensi yang dilakukan mencakup :
-Penyediaan air bersih dan sanitasi (WASH).
-Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
-Dukungan layanan pendidikan dalam situasi darurat.
-Dan perlindungan anak dan perempuan dari risiko bencana.
“Kami ucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang. Kami akan terus mendukung masyarakat Aceh Tamiang untuk bangkit dan pulih dengan terus memperkuat akses terhadap kebutuhan dasar masyarakat,” ucap Ida Ngurah.
Pihak Plan Indonesia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan penuh dan kemudahan koordinasi yang diberikan oleh jajaran Pemkab Aceh Tamiang, BPBD, serta dinas terkait selama penyaluran bantuan di lapangan.
Penutupan program ini bukan akhir, melainkan penanda transisi dari fase tanggap darurat menuju fase pemulihan jangka panjang yang akan dilanjutkan oleh pemerintah daerah dan komunitas lokal.
Sinergi yang terbangun selama 9 bulan ini menjadi bukti bahwa penanganan bencana yang efektif harus melibatkan semua pihak, dengan fokus pada kelompok paling rentan.
Kegiatan diakhiri dengan penyerahan cenderamata oleh kedua belah pihak dan foto bersama.[M ROTUAH]



















