SUARA GARDA | ACEH TAMIANG
Balutan baju adat Melayu Tamiang di Halaman Pendopo Bupati, Jumat (10/04/26) pagi, menjadi simbol keteguhan. Di hari jadinya yang ke-24, Kabupaten Aceh Tamiang memilih tidak larut dalam seremoni. Upacara puncak HUT justru dijadikan panggung untuk meneguhkan arah: mempercepat pemulihan pascabencana.
Bertindak sebagai Pembina Upacara, Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (P) Drs. Armia Pahmi, M.H., menegaskan tema tahun ini: _“Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat”_. Tema itu bukan jargon. Ia lahir dari luka akibat siklon tropis Senyar yang memporak-porandakan Aceh Tamiang di penghujung 2025.
“Hari ini, kita berkumpul dalam khidmat untuk merayakan Hari Jadi Kabupaten Aceh Tamiang yang ke-24. Usia 24 tahun bukanlah sekadar angka kalender. Secara teoritis, pada usia ini kita semestinya telah memantapkan pondasi infrastruktur dan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih serta melayani,” ujar Bupati dalam amanatnya.
BENCANA JADI TITIK BALIK
Namun sejarah menuliskan ujian berbeda. Bupati menyebut badai Senyar membawa bencana hidrometeorologi dahsyat yang menguji ketangguhan daerah. Ribuan rumah rusak, infrastruktur lumpuh, dan puluhan ribu warga mengungsi.
Karena itu, momentum HUT ke-24 ditegaskan sebagai _titik balik_. “Kita tidak hanya ingin sekadar pulih, kita ingin Bangkit Bersama Menjadi Lebih Kuat!” tegasnya.
Kalimat itu berulang kali ditekankan. Bagi Bupati Armia, “pulih” berarti kembali ke kondisi sebelum bencana. Sementara “bangkit lebih kuat” berarti membangun kembali dengan standar yang lebih baik: rumah tahan banjir, tata kota berbasis mitigasi, dan birokrasi yang lebih responsif saat krisis.
LAPORAN TRANSPARAN Rp112 MILIAR STIMULAN RUMAH SUDAH CAIR
Sebagai bentuk akuntabilitas, Bupati memaparkan progres rehabilitasi dan rekonstruksi yang dikerjakan sinergis bersama Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi.
“Sampai dengan saat ini sudah disalurkan dana stimulan rumah gelombang I kepada 5.141 KK penerima, dengan total nilai Rp112 miliar,” paparnya. Rinciannya: 2.804 KK rumah rusak ringan Rp15 juta dan 2.337 KK rumah rusak sedang Rp30 juta.
Selain itu, bantuan sosial ekonomi dari Kemensos Tahap I juga telah disalurkan via Kantor Pos. Meliputi santunan ahli waris untuk 236 keluarga Rp3,54 miliar, jaminan hidup bagi 26.725 jiwa Rp36,07 miliar, bantuan isi hunian untuk 7.575 KK Rp22,72 miliar, dan stimulan sosial ekonomi untuk 7.575 KK senilai Rp37,87 miliar.
KABAR BAIK DI HARI JADI BANTUAN TAHAP II Rp76,6 MILIAR CAIR
Tepat di hari jadi, Bupati membawa kabar baik. Bantuan Kemensos RI Tahap II untuk Kecamatan Rantau, Karang Baru, dan Bandar Pusaka resmi disalurkan melalui Kantor Pos dengan total Rp76.668.800.000.
Angka itu signifikan. Jika Tahap I fokus pada korban rumah rusak dan jaminan hidup, Tahap II memperluas jangkauan ke pemulihan ekonomi. Ini sinyal bahwa fase tanggap darurat beranjak ke fase rehabilitasi.
Bupati Armia berkomitmen mengawal percepatan pembangunan hunian dan perbaikan infrastruktur yang rusak. “Bumi Muda Sedia” — julukan Aceh Tamiang — harus kembali berdiri.
BUKAN SEKEDAR UPACARA, TAPI KOLEKTIF
Upacara berlangsung khidmat, dihadiri unsur Forkopimda, pejabat Pemkab, tokoh masyarakat, dan tamu undangan. Rangkaian HUT ke-24 juga diwarnai zikir akbar bersama ASN sehari sebelumnya sebagai bentuk syukur.
Pemilihan pakaian adat Melayu Tamiang bukan tanpa makna. Di tengah upaya membangun fisik, Aceh Tamiang ingin menegaskan identitas. Bahwa ketangguhan tidak hanya diukur dari beton dan jembatan, tapi juga dari nilai budaya, kebersamaan, dan spiritualitas.
MENGAPA “BANGKIT LEBIH KUAT” PENTING?
Siklon Senyar membuktikan Aceh Tamiang berada di garis depan krisis iklim. Bencana hidrometeorologi diprediksi makin sering. Karena itu, membangun kembali seperti semula sama dengan menyiapkan bencana berikutnya.
“Bangkit Lebih Kuat” berarti membangun drainase yang lebih besar, rumah panggung di zona rawan, sistem peringatan dini yang menjangkau kampung terjauh, dan birokrasi yang tak gagap saat darurat.
Usia 24 tahun, menurut Bupati, adalah usia matang. Matang berarti berani mengevaluasi, mengakui kelemahan tata ruang lama, dan membangun dengan paradigma baru: mitigasi.
Kini, dengan Rp112 miliar sudah di tangan warga, Rp76,6 miliar siap cair, dan ribuan hunian dalam proses pembangunan, Aceh Tamiang sedang menulis ulang sejarahnya. Bahwa dari puing bencana, sebuah kabupaten bisa pulih lebih cepat, dan bangkit lebih kuat.[IndahFebri]



















