SUARA GARDA | ACEH TAMIANG
Jumat (24/4/26), aula Lapas Kelas IIB Kualasimpang tidak dipenuhi suara borgol, tapi tepuk tangan perpisahan. Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, SE.I hadir menyaksikan Serah Terima Jabatan dari Kalapas lama, Mudo Mulyanto, kepada penggantinya, Akhmad Sobirin Sholeh.
Prosesi dipimpin langsung Kakanwil Ditjenpas Aceh, Yan Rusmanto. Namun yang membuat sertijab ini berbeda adalah cerita yang dibawa Mudo: tentang 425 warga binaan yang harus dijaga dalam kondisi kalut, ketika banjir bandang merendam Aceh Tamiang dan ikut menguji batas kemanusiaan di balik tembok lapas.
“Selamat menjalankan amanah dan terima kasih atas dedikasinya Pak Mudo. Meskipun sedang dalam kondisi pascabencana namun tetap eksis dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tutur Kakanwil Yan Rusmanto.
WBK, Banjir, dan Mental Tanggung Jawab
Di bawah kepemimpinan Mudo Mulyanto, Lapas Kualasimpang bukan sekadar bertahan. Ia meraih predikat WBK: Wilayah Bebas dari Korupsi. Capaian itu terasa kontras dengan ujian terberatnya: banjir.
Berdasarkan kesan yang disampaikan perwakilan pegawai, Mudo dikenal memiliki mental bertanggung jawab. “Terbukti di saat banjir melanda, beliau berhasil menghadapi 425 WBP dengan kondisi kalut secara kemanusiaan. Ia dikenal sebagai pribadi yang legowo dan sabar dalam menghadapi pegawai bahkan WBP,” ungkap salah satu pegawai.
Menjaga ketertiban 425 WBP saat air masuk, listrik padam, dan logistik tersendat bukan tugas ringan. Tak ada kerusuhan. Tak ada pelarian massal. Yang ada justru koordinasi dengan Forkopimda, evakuasi terukur, dan pelayanan yang tetap jalan. Di situlah predikat WBK diuji bukan di atas kertas, tapi di genangan air.
Dalam kata perpisahannya, Mudo mengucapkan ribuan terima kasih kepada _stakeholders_ dan para pegawai Lapas yang selalu menjalankan kerja sama yang baik. Selanjutnya, ia akan mengemban amanah sebagai Kalapas Brebes, Jawa Tengah.
Akhmad Sobirin: Dari WBK Menuju WBBM
Tongkat estafet kini di tangan Akhmad Sobirin Sholeh. Dalam sambutan perdananya, ia tidak menjanjikan revolusi, tapi keberlanjutan yang ditingkatkan.
“Mohon dukungan seluruh _stakeholders_ untuk dapat membawa Lapas Kelas IIB Kualasimpang mampu terus berbenah ke arah yang lebih baik lagi sehingga mampu mempertahankan predikat WBK bahkan WBBM,” ujarnya.
WBBM: Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani. Target yang lebih tinggi dari WBK. Artinya, Akhmad tidak hanya harus menjaga lapas tetap bebas korupsi, tapi juga memastikan pelayanan terhadap WBP dan masyarakat berjalan prima.
“Mohon saran dan masukan bagi kami dalam melaksanakan tugas. Semoga Lapas Klas IIB Kualasimpang yang sudah sangat baik ini menjadi lebih baik lagi,” tambah Akhmad.
Lapas di Tengah Pemulihan Daerah
Sertijab ini terjadi ketika Aceh Tamiang sedang menata pemulihan pascabanjir di semua lini. Sekolah direvitalisasi Rp192 miliar. Huntara dibangun. 50 ribu Mushaf disalurkan. Di tengah itu, lapas juga harus pulih.
Kehadiran Wabup Ismail, unsur Forkopimda, Kalapas Klas IIB Langsa, Kalapas Narkotika Langsa, hingga Kepala BNNK Aceh Tamiang dalam sertijab menandakan satu hal: Lapas Kualasimpang bukan lembaga yang bekerja sendiri. Ia bagian dari ekosistem pemulihan daerah.
Mudo Mulyanto meninggalkan warisan WBK dan cerita tentang ketenangan di tengah kepanikan banjir. Akhmad Sobirin datang membawa target WBBM dan harapan pembenahan.
Di antara keduanya, ada 425 WBP yang nasibnya bergantung pada siapa yang memegang kunci. Dan ada masyarakat Aceh Tamiang yang menilai: bahwa pemulihan sejati juga diukur dari bagaimana negara memperlakukan mereka yang sedang menjalani hukuman.
Sebab “Habis Gelap, Terbitlah Terang” harus berlaku bahkan di balik jeruji. [IndahFebri]



















