banner 728x250
IKlan

Rp192 Miliar untuk Bangkitkan Sekolah: Revitalisasi dan Gerakan Mengaji Jadi Jalan Aceh Tamiang Pulihkan Pendidikan Pascabanjir

banner 120x600
banner 468x60

SUARA GARDA | ACEH TAMIANG
Dinding ruang kelas SMP 2 Karang Baru masih menyimpan bekas lumpur setinggi lutut orang dewasa. Namun Rabu (23/4/26), di halaman sekolah itu, Bupati Aceh Tamiang Irjen Pol. (Purn.) Drs. Armia Pahmi, M.H. meletakkan batu pertama Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026. Di saat bersamaan, ia meluncurkan Gerakan Mengaji Sebelum Belajar di lingkungan sekolah.

Dua program diluncurkan sekaligus, satu menjawab kerusakan fisik, satu menjawab kerusakan semangat.

banner 325x300

*Skala Kerusakan, Skala Respons: 254 Sekolah, Rp192 Miliar*

Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang beberapa waktu lalu tidak hanya merendam rumah. Ia melumpuhkan 254 satuan pendidikan dari PAUD hingga SMP. Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mencatat, total alokasi revitalisasi 2026 mencapai Rp192.028.536.000.

Rinciannya: 119 TK/PAUD dengan alokasi Rp47.322.367.000, 116 SD sebesar Rp109.776.373.000, dan 19 SMP senilai Rp34.929.796.000. “Alhamdulillah ada 254 sekolah yang sudah menerima program revitalisasi ini dengan total keseluruhan alokasi anggaran Rp192 miliar,” kata Plt. Kadisdikbud Drs. Sepriyanto.

Angka itu besar, tapi belum menutup semua lubang. Sepriyanto menyebut masih ada 5 TK, 5 SD, 26 SMP, serta 2 sekolah relokasi bangunan baru yang belum menerima program. “Insya Allah sekolah yang belum menerima program ini, akan menyusul untuk menerima program revitalisasi,” ujarnya.

Mandat Inpres 7/2025: Bukan Sekadar Bangun Gedung

Bupati Armia menegaskan, revitalisasi ini adalah mandat Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 dan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHCT). Artinya, ada target waktu dan kualitas yang dikawal pusat.

“Revitalisasi Satuan Pendidikan terdampak bencana menjadi momentum penting bagi kita dalam rangka pemulihan dan membangkitkan kembali pendidikan di Bumi Muda Sedia. Program ini bukan hanya sekadar membangun kembali gedung sekolah, tetapi membangun kembali semangat belajar anak-anak dan memberikan rasa aman dan nyaman dalam proses pembelajaran,” terang Bupati.

Pernyataan itu menandai pergeseran paradigma. Pascabencana, pemerintah tidak cukup menghitung jumlah ruang kelas yang roboh. Yang dihitung adalah berapa lama anak trauma melihat air, berapa banyak buku yang hanyut, dan bagaimana mengembalikan rutinitas belajar yang memberi rasa normal.

Mengaji Sebelum Belajar: Memulihkan yang Tak Kasat Mata

Bersamaan dengan peletakan batu pertama di SMP 2 Karang Baru, Bupati Armia didampingi Bunda PAUD Ny. Yuyun Armia meluncurkan Gerakan Mengaji Sebelum Belajar. Program ini menyasar penguatan karakter peserta didik.

Langkah ini membaca konteks Aceh Tamiang secara utuh. Di daerah yang menerapkan syariat Islam, pemulihan pascabencana tidak hanya soal infrastruktur. Ada kebutuhan psikososial dan spiritual yang harus dijawab. Mengaji sebelum belajar diposisikan sebagai jangkar: memberi ketenangan sebelum pelajaran dimulai, membangun resiliensi anak lewat rutinitas keagamaan.

Relawan Manfaat Mengalir sebelumnya telah membuka TPA darurat dan sarana ibadah sementara di lokasi banjir. Gerakan Mengaji Sebelum Belajar kini melembagakan praktik itu ke dalam sistem sekolah.

Tantangan: 36 Sekolah Menunggu, Kualitas Harus Dikawal

Dengan 254 sekolah masuk daftar 2026, pekerjaan rumah belum selesai. 36 sekolah masih menunggu giliran, termasuk 2 sekolah yang harus direlokasi total. Artinya, ada ribuan siswa yang masih belajar di tenda atau menumpang.

Bupati Armia meminta semua pihak serius. “Seluruh pihak benar-benar serius dan bertanggung jawab dalam melaksanakan program ini,” tegasnya. Peringatan itu relevan. Rp192 miliar adalah uang besar. Di lapangan, ia harus menjadi ruang kelas yang tidak bocor, toilet yang berfungsi, dan meja-kursi yang cukup. Bukan sekadar seremonial batu pertama.

Build Back Better di Ruang Kelas

Program ini berkelindan dengan komitmen _build back better_ yang digaungkan Pemkab dalam Musrenbang RKPD 2027. Artinya, sekolah yang dibangun kembali harus lebih aman dari banjir, lebih inklusif untuk anak disabilitas, dan lebih siap menghadapi bencana berikutnya.

Jika itu terjadi, maka 23 April 2026 bukan hanya tanggal peletakan batu pertama di SMP 2 Karang Baru. Ia adalah tanggal ketika Aceh Tamiang memutuskan bahwa “Habis Gelap, Terbitlah Terang” harus dibuktikan di ruang kelas.

Sebab pemulihan sejati bukan diukur dari jumlah anggaran, tapi dari berani tidaknya seorang anak datang ke sekolah lagi, membuka mushaf, lalu membuka buku pelajaran dengan rasa aman.[IndahFebri]

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *