SUARA GARDA | ACEH TAMIANG
Di ruang kerja Wakil Menteri Sosial RI, Agus Jabo Priyono, selembar dokumen setebal ratusan halaman diserahkan Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (Purn.) Drs. Armia Pahmi, M.H., Kamis (16/4/2026). Isinya bukan sekadar angka. Ia adalah daftar nama, alamat, dan harapan 40.515 kepala keluarga atau 143.711 jiwa yang menunggu pemulihan hidup pascabencana hidrometeorologi.
Dokumen itu bernama usulan Bantuan Stimulan untuk Bansos Tahap III dan IV. Di dalamnya ada dua kebutuhan yang paling mendasar setelah banjir surut: perabot untuk mengisi rumah yang kosong, dan modal Usaha Ekonomi Produktif (UEP) untuk menggerakkan dapur yang padam.
“Alhamdulillah, hari ini Bapak Bupati Armia Pahmi menyerahkan langsung usulan Stimulan Bantuan Sosial untuk bantuan perabot dan pemulihan ekonomi ke Wakil Menteri Sosial RI, Bapak Agus Jabo Priyono,” ungkap Plt. Kepala Dinas Sosial Aceh Tamiang, Ahmad Yani.
PETA HARAPAN 5.950 KK DI DALAM MANYAK PAYED, 4.835 KK DI KARANG BARU
Jika Tahap I dan II menjangkau 13.516 KK, maka Tahap III dan IV melipatgandakan skala intervensi. Tahap III menyasar 20.863 KK dengan 74.405 jiwa. Kecamatan Manyak Payed mencatat penerima terbanyak: 5.950 KK atau 21.686 jiwa. Di sana, banjir tak hanya merendam rumah, tapi juga menghanyutkan etalase warung, mesin jahit, dan perahu nelayan.
Tahap IV menyusul dengan 19.652 KK atau 69.306 jiwa. Kali ini giliran Karang Baru yang dominan: 4.835 KK, 17.183 jiwa. Disusul Bendahara 3.528 KK dan Kota Kualasimpang 2.480 KK. Pergeseran peta penerima ini menunjukkan bahwa dampak bencana bergerak, dan respons pemerintah mencoba mengejarnya satu per satu sesuai dengan name alamat.
BUKAN SEKEDAR SEMBAKO: MEMULIHKAN MARTABAT LEWAT UEP DAN PERABOT
“Bantuan ini tidak hanya difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga untuk mendorong pemulihan ekonomi masyarakat melalui dukungan usaha produktif dan penyediaan perabot rumah tangga,” tegas Ahmad Yani.
Kalimat itu penting. Sebab pascabencana, bantuan sering berhenti di mi instan dan selimut. Padahal yang hilang dari rumah warga bukan cuma makanan, tapi juga meja untuk anak mengerjakan PR, kompor untuk istri berjualan, dan gerobak untuk bapak mencari nafkah. UEP dan perabot adalah cara mengembalikan martabat: agar warga tidak selamanya disebut “korban”, tapi kembali jadi “pelaku” ekonomi.
BNBA: KETIKA DATA MENJADI JALAN KEADILAN
Penggunaan skema _By Name By Address_ bukan tanpa alasan. Di Tahap I dan II, keluhan klasik muncul: ada yang dobel menerima, ada yang luput terdata. Dengan BNBA, setiap usulan melekat pada NIK, alamat, dan kondisi riil. Ini kerja senyap para camat dan datok penghulu yang sebulan terakhir menyisir lorong-lorong kampung, memastikan penyewa, rumah dinas, hingga warga dengan dua KK dalam satu rumah ikut terpotret.
Hasilnya: 12 kecamatan, 40.515 KK, 143.711 jiwa. Angka yang jika disetujui, akan jadi intervensi bansos terbesar di Aceh Tamiang pasca banjir.
MENUNGGU REALITAS ANTARA DOKUMEN DAN DAPUR WARGA
Pemerintah daerah kini menunggu. Dokumen sudah di Jakarta, tapi perut warga tetap harus diisi setiap hari. Ahmad Yani berharap usulan segera direalisasikan agar “masyarakat yang telah terdata dapat segera menerima manfaatnya.”
Di Manyak Payed, seorang ibu mungkin sedang menimbang: apakah bulan depan bisa kembali jualan kue karena dapat bantuan kompor. Di Karang Baru, seorang ayah mungkin membayangkan anaknya bisa tidur lagi di kasur, bukan di tikar pengungsian.
Usulan Tahap III dan IV adalah jembatan. Di satu sisi ada negara dengan anggaran dan kewenangan. Di sisi lain ada 143.711 jiwa dengan daftar kebutuhan yang sangat konkret: panci, kasur, etalase, modal 500 ribu.
Dan seperti kata Bupati Armia saat penyerahan: ini langkah konkret memperjuangkan kebutuhan masyarakat. Konkret, karena diukur dengan nama. Konkret, karena diukur dengan alamat. Dan konkret, karena yang ditunggu warga bukan pidato, tapi barang yang bisa dipakai untuk bangkit.
DATA SINGKAT TAHAP III & IV
Tahap III: 20.863 KK, 74.405 jiwa. Terbanyak Manyak Payed 5.950 KK.
Tahap IV: 19.652 KK, 69.306 jiwa. Terbanyak Karang Baru 4.835 KK.
Total: 40.515 KK, 143.711 jiwa di 12 Kecamatan.
Jenis bantuan: Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan isi perabotan rumah tangga. [IndahFebri]



















